Posted by : Unknown Minggu, 14 April 2013


 
Lombok tidak hanya pulau dengan pantai dan pura, disini pun tersimpan banyak jejak sejarah agama Islam yang masih terjaga. Salah satunya adalah Masjid Kuno Bayan Beleq. Lokasinya terletak di Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara, tepat berada di perbatasan antara Lombok Utara dan Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.

Nama lengkap masjid ini adalah Masjid Bayan Beleq. Kalimat “Beleq” bermakna “makam besar”. Nama ini mungkin saja disebabkan adanya sejumlah makam para tokoh penyebar agama Islam di sekitar kompleks masjid. Antara lain, makam Syekh Gaus Abdul Rozak,  tokoh kenamaan yang menyebarkan agama Islam hingga ke berbagai belahan Negara pada abad 16/17 M.

Masjid Bayan Beleq diperkirakan dibangun pada abad ke-17  masehi. Meskipun tak ada angka tahun yang pasti, namun pengulu adat Bayan berkeyakinan bahwa Masjid Bayan Beleq dibangun bersamaan dengan masuknya Islam kepulau Lombok di abad ke-11 atau sekitar tahun 1020 M. Bila hal ini benar, maka akan mengubah sejarah masuknya Islam ke Indonesia yang selama ini selalu disebutkan masuk sekitar abad ke-13 masehi.

Namun, hingga kini siapa tokoh yang mendirikan masjid ini masih simpang siur. Beberapa sumber mengatakan masjid ini didirikan oleh seorang penghulu yang dimakamkan di komplek masjid tersebut yang dikenal dengan nama Makam Titi Mas Penghulu. Beberapa sumber lain menyebutkan Sunan Giri-lah yang membangun, ada juga yang menyebutkan bahwa masjid ini dibangun oleh Sunan Prapen atau yang dikenal dengan nama Pangeran Senopati, cucu dari Sunan Giri.

Ditengah suasana alam yang masih alami dengan hamparan sawah berundak, masjid ini dibangun amat sederhana tidak berbeda jauh dengan rumah-rumah sekitarnya. Sehingga membuatnya tidak mudah untuk dikenali dari tepi jalan. Bangunan masjid ini memiliki ukuran 9 x 9 meter. Dinding-dindingnya rendah dan terbuat dari anyaman bambu, atapnya berbentuk tumpang yang disusun dari bilah-bilah bambu, sedangkan fondasi lantainya terbuat dari batu-batu kali. Sementara itu, lantai masjid terbuat dari tanah liat yang telah ditutupi tikar buluh. Di sudut-sudut ruang masjid terdapat empat tiang utama penopang masjid, yang terbuat dari kayu nangka berbentuk silinder. Di dalam masjid tersebut, juga terdapat sebuah bedug dari kayu, yang digantung di tiang atap masjid.

Meskipun tidak lagi digunakan oleh masyarakat sekitar, tetapi pada hari-hari besar Islam masjid ini akan kembali ramai. Salah satunya saat perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw., Masjid Bayan Beleq akan dipenuhi oleh pengunjung.

Selain diwajibkan untuk mengikuti peraturan yang ada, para pengunjung juga harus menggunakan baju adat sasak. Dari buku daftar tamu kita bisa merasa bangga, masjid Bayan Beleq meski sangat sederhana ternyata banyak juga dikunjungi oleh para Turis dari berbagai Negara.

Falsafah Kehidupan Ala Adat Wetu Telu
Masjid yang terkenal sebagai pintu masuknya Islam di dataran Lombok ini menggambarkan tonggak peradaban masyarakat Lombok Utara. Khususnya masyarakat adat Wetu Telu.
Dalam masyarakat adat Wetu Telu menyakini bahwa tempat kedudukan “imam” (pemimpin) tidak sama dengan “makmum” (pengikut atau rakyat). Itulah sebabnya mengapa bahan dinding masjid berbeda dengan bahan untuk mihrab. Dinding masjid terbuat dari bambu sedangkan mihrab dari kayu Suren.

Pada bagian “blandar” atas terdapat sebuah “jait” yaitu tempat untuk manaruh hiasan-hiasan terbuat dari kayu berbentuk ikan dan burung. Menurut mereka Ikan ialah binatang air, melambangkan dunia bawah, maksudnya kehidupan duniawi. Sedangkan burung sebagai binatang yang terbang di udara, melambangkan dunia “atas” maksudnya kehidupan di alam sesudah mati (akhirat). Makna perlambang yang ada di balik itu ialah, manusia hendaknya selalu menjaga keseimbangan antara tujuan hidup di dunia dan akhirat.
Pada bagian atas mimbar, terdapat hiasan berbentuk naga, sebagai lambang kesucian. Pada bagian “badan naga” terdapat hiasan (gambar) tiga buah binatang, masing-masing bersegi 12, 8, dan 7, arti dari jumlah bilangan bulan (12), windu (8), dan banyaknya hari (7). Disamping itu juga terdapat hiasan berbentuk pohon, ayam, telur, dan rusa. Menurut adat Wetu Telu manusia diharuskan menjaga keselarasan dan keseimbangan hidup antar makhluk yang diciptakan Allah melalui tiga jalan yakni memanak (beranak), menteluk (bertelur), dan mentiu (bertumbuh).

Manusia dan hewan mamalia dilahirkan dari proses beranak-pinak, unggas dan hewan melata tercipta dari telur, sedangkan tumbuhan dari biji-bijian yang ditanam dan bertumbuh. Ketiganya harus selaras dan seimbang. Makna filosofinya, manusia tidak boleh mengeksploitasi alam secara berlebihan karena akan merusak tumbuhan dan juga habitat hewan.
Pintu masuk masjid sangat lah pendek, mereka menganjurkan apabila orang hendak menghadap Allah haruslah merendahkan diri dihadapan-Nya.

Di dalam seni rupa Islam pada umumnya, hampir tidak pernah ditemukan motif atau ragam hias makhluk hidup yang digambarkan secara jelas. Adanya ragam hias dengan motif makhluk hidup pada mimbar masjid di Bayan Beleq menunjukkan betapa kuatnya pengaruh tradisi pra Islam yang masih mewarnainya. Yaitu tradisi yang hingga kini dipegang teguh oleh masyarakat adat Wetu Telu.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © AHMAD RIFA'I - Hatsune Miku - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -